Menggambar bebas, Membebaskan anak mengungkapkan siapa dirinya…

Banyak orang yang melihat gambar anak hanya selintas lalu, melihat gambar anak-anak hanya coretan-coretan tidak bermakna dengan bentuk-bentuk yang tidak sempurna. Namun bagi saya gambar anak-anak itu sangat berarti, gambar anak seperti memiliki magnet atau lubang yang memiliki kekuatan untuk menarik saya ke dalamnya.

Semenjak terjun ke dunia anak-anak dan disuguhi dengan belasan coretan/gambar anak-anak kelompok bermain setiap harinya, mengamati anak-anak menggambar, mendengarkan apa yang mereka ceritakan mengenai gambarnya, lama-lama saya menjadi senang mengamati gambar mereka dan menebak-nebak apalagi yang akan mereka gambar dan apa maksud dari gambar yang mereka ciptakan.  Saya menjadi sangat penasaran bagaimana anak memproses ide/gagasan yang kemudian mereka visualisasikan melalui sehelas kertas dengan bentuk-bentuk  yang unik, cerminan diri mereka.

Konon katanya, sejak zaman prasejarah, manusia sudah gemar menggores-gores. Mereka menggores-gores dengan menggunakan benda keras, ujung jari tangan maupun kaki dipermukaan tanah dengan tujuan untuk memperjelas ungkapan atau menguraikan pikiran dan ide. Sun Ardi (1994) berpendapat bahwa hal tersebut merupakan embrional dari menggores atau menggambar, sebuah cara pengungkapan apabila kata dan bahasa tidak mampu mengungkapkan pikiran, ide dan maksud secara gamblang.

Dari ungkapan di atas, menjadi nyata bahwa gambar anak-anak menyiratkan pesan, ide dan gagasan  ditengah keterbatasan kosa kata yang mereka miliki. Anak-anak senang menggambar sambil mengekspresikan dirinya, mereka menggambar untuk memperjelas maksud dan pikiran yang mereka miliki. Sangat disayangkan apabila orang dewasa menganggap hasil karya gambar anak sebagai karya biasa karena hasil karya gambar anak merupakan hasil karya alami, karya dari perkembangan alamiah mereka tanpa diselipi kaidah-kaidah tertentu, tanpa isme-isme apapun dan tanpa pretensi.

Azka (4 tahun)

Melalui menggambar bebas, anak belajar mengungkapkan siapa dirinya, bebas mengungkapkan ide, pikiran dan gagasan, menggambar sesuai dengan caranya sendiri tanpa takut salah hingga anak  menghasilkan keunikan-keunikan dirinya, belajar mengenal siapa dirinya. Lalu bagaimana apabila kita mengajari anak menggambar? Pablo Ruiz Picasso menyatakan bahwa “we do not need to teach children how to paint, it is us who have to learn from the purity of children’s painting”, kita tidak perlu mengajari bagaimana cara menggambar pada anak-anak justru kita yang harus belajar dari karya gambar anak. Kemampuan menggambar tak perlu diajarkan karena menggambar merupakan anugerah yang sudah diberikan Tuhan pada setiap manusia sebagaimana Tabrani berpendapat bahwa anak-anak yang masih belum menguasai bahasa kata dan bahasa tulisan dengan baik, dapat dengan mudah berkomunikasi dengan bahasa rupa yang telah dianugerahkan oleh Tuhan sejak anak berusia sekitar 2 tahunan. Pada usia 2 tahun anak sudah dapat memegang pensil dan membuat coretan-coretan, coreng-moreng (Scribbling stage) untuk mengekspresikan dirinya. Seiring dengan berjalannya waktu anak akan mengalami perkembangan dalam menggambar, menginjak usia 4 tahun, anak dapat mencipta bentuk-bentuk dan mulai berkomunikasi melalui gambar (masa pra bagan).

Biarkan anak-anak menggambar secara alami, tanpa pretensi, agar ia dapat menemukan siapa dirinya..

This entry was published on March 26, 2010 at 4:43 am. It’s filed under Artikel and tagged , , . Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: