Pilih anak bisa membaca ataukah senang membaca?

Pilih anak bisa baca atau senang baca?

Semua yakin bahwa kemampuan membaca itu sangat penting dalam kehidupan, sebagaimana Allah Swt menurunkan wahyu pertama kepada Nabi Muhammad Saw untuk dapat membaca ketika diangkat menjadi Rasul melalui perantara Malaikat Jibril. Kemampuan membaca dalam hal ini tentu saja bukan “asal membaca”, namun membaca yang penuh makna. Seperti apa sesungguhnya membaca yang penuh makna itu?.

Pada saat ini, banyak orangtua yang resah akan kemampuan membaca anak mereka, orangtua takut apabila anak mereka belum dapat membaca akan tertinggal ketika masuk SD, belum lagi tuntutan masuk SD yang mengharuskan anak sudah dapat membaca yang pada akhirnya berpengaruh pada kegiatan belajar di Taman Kanak-Kanak. Persoalan tersebutlah yang menimbulkan polemik dalam dunia pendidikan anak usia dini; pro dan kontra  mengenai praktik membaca di TK, metode pengajaran yang cenderung konvensional, perdebatan mengenai kesiapan membaca anak sampai pada dikeluarkannya larangan praktik belajar membaca di TK oleh pemerintah.

Belajar membaca di TK sesungguhnya bukanlah sebuah kesalahan selama itu dilakukan dengan cara yang menyenangkan dan sesuai dengan usia serta kemampuan anak. Ketika anak dapat membaca, siapa yang tidak senang? semua orangtua pasti akan senang. Namun sadarkah kita bahwa mungkin diantara kita terkadang melupakan sesuatu, ketika anak bisa membaca apakah anak juga senang membaca?.

Ya, antara bisa membaca dan senang membaca, hal tersebut begitu menggelitik. Bagaimana tidak, anak yang bisa membaca belum tentu senang membaca sehingga hal ini berpengaruh pada sejauh mana anak mampu mengingat isi/ pesan dari buku yang telah ia baca. Sedangkan pada anak yang senang membaca, sudah tentu ia dapat membaca dan menangkap serta mengingat isi/ pesan dari buku yang telah ia baca.

Sebagai pendidik, mungkin kita harus mengubah mind set mengenai keterampilan membaca anak. Sudah saatnya kita membimbing anak-anak  untuk tidak sekedar dapat membaca namun senang membaca. Bila hari kemarin kita disibukan dengan mencari metode yang tepat dalam mengajarkan kemampuan membaca anak maka hari ini tugas kita bertambah yaitu mencari strategi dan cara agar anak senang membaca.

Sekedar untuk berbagi pengalaman, saya teringat tentang pengalaman saya ketika menjadi fasilitator di Kelompok Bermain Laboraturium PAUD Universitas Pendidikan Indonesia pada tahun ajaran 2006-2007. Pada saat kegiatan circle time, setiap harinya saya bersama rekan saya selalu menyisipkan kegiatan bercerita dan membaca buku bersama anak-anak. Buku yang dibaca tergantung pada pilihan anak-anak, anak-anak secara bergantian dapat memilih buku apapun yang mereka sukai di lemari yang letaknya tak jauh dari kami dan kemudian salah satu dari kami akan membacakannya. Dari kegiatan tersebut, nampak anak-anak menjadi sangat antusias terhadap buku, mereka seringkali berebut ingin memilih buku dan membacanya. Walaupun mereka belum dapat membaca teks namun mereka mampu menceritakan isi buku dan mengingatnya hanya dengan mendengarkan kami atau membaca gambar-gambar ilustrasi yang ada di buku, luar biasa dan merasa bangga ketika mendengar anak-anak didik kami yang masih berusia 2-3 tahun itu  bercerita tentang isi buku tanpa mengurangi nilai isi/pesan dari buk. Mendekatkan buku dengan dunia anak-anak dan membacakan buku pada anak-anak juga dianjurkan oleh Glen Doman (Yunus, 2006), mendukung pengalaman di atas Glen Doman mengatakan bahwa untuk menanamkan minat baca pada anak usia dini dapat dilakukan melalui hal-hal di bawah ini:

  1. Metode belajar membaca dilakukan melalui bermain
  2. Kegiatan membaca untuk anak usia dini tidak berarti membaca huruf/ kalimat
  3. Anak akan tertarik untuk membaca dengan menirukan apa yang dilakukan oleh orangtua/ orang dewasa
  4. Anak difasilitasi dan diberikan kesempatan untuk melihat dan memegang buku yang dibaca
  5. Anak akan membaca/ mengungkapkan apa yang didengar dari orangtua/ orang dewasa walaupun sekedar menirukan gerakan bibir.

Poin-poin di atas kiranya dapat menambah referensi kita untuk menumbuhkan kesenangan anak dalam membaca. Kita tidak hanya dapat memfasilitasi anak untuk belajar membaca yang penuh makna (meaningfull) namun ketika kita menumbuhkan minat anak terhadap membaca, kita juga melatih  kesiapan membaca (Reading Readiness). Semoga bermanfaat!

Elis Komalasari

This entry was published on March 25, 2010 at 1:17 am. It’s filed under Artikel and tagged , , . Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: